Kegiatan di Rumah Baca Meretas Ruku: Lomba Menghias Nasi Kuning dan Menyusun Puzzle..
2 Januari 2015
Filosofi Nama “Meretas Ruku”
Rumah Baca Meretas Ruku (Melintas Batas Ruang dan Waktu)
Meretas dalam bahasa Indonesia artinya merintis, memperjuangkan. Ruku adalah bagian dalam sholat, merendahkan diri. Sebuah perjuangan untuk memulai belajar merendahkan diri, seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.
Meretas ruku jika dilihat sebagai singkatan melintas batas ruang dan waktu memiliki filosofi:
Manusia memiliki banyak keterbatasan. Akan tetapi manusia bisa menjadikan keterbatasan itu sebagai sebuah tantangan untuk ditaklukan. Manusia belajar – menembus batas-batas ruang dan waktu. Buku adalah alat transportasi tercanggih. Ia bisa membawa kita bepergian ke Eropa, Amerika, kutub utara, ke ujung dunia atau bahkan ke bulan dan bintang di angkasa. Buku adalah mesin waktu. Ia bisa mengajak kita kembali ke masa-masa lampau, zaman pra-sejarah, zaman batu, masa Rasulullah dan sahabat, dan waktu-waktu lain yang kita inginkan.
Rumah Baca ini hadir dengan nama MERETAS RUKU “MELINTAS BATAS RUANG DAN WAKTU” karena kehadiran rumah baca ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi anak-anak dan remaja di dusun Pagerjirak dan sekitarnya untuk berusaha dan berjuang melewati keterbatasan mereka – keterbatasan ekonomi, keterbatasan kesempatan, budaya dan sebagainya.
Selain itu, kata “meretas” bisa diartikan merintis, sedangkan “ruku” merupakan bagian dari sholat dimana kita membungkukan badan, merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Sebagaimana peribahasa padi, semakin berisi semakin merunduk. Semakin berilmu, semakin banyak membaca, membuat orang semakin rendah hati.
Juara I Lomba Perpustakaan Desa Tingkat Kabupaten Purbalingga
Mbak Titi dan Meretas Ruku (Tulisan Pengunjung Rumah Baca)
http://sajaq.blogspot.com/2012/02/mba-titi-dan-meretas-ruku.html
Dwititi Maesaroh, aku memanggilnya Mba Dwi, kadang juga Mbak Titi. Aku mengenalnya belum lama. Waktu itu lihat di FB teman, ternyata dia tinggal di Pagerjirak, Kejobong, dekat desaku, jadi aku add. Lalu aku lihat foto-foto Rumah Baca yang dia upload. Tertarik! Aku pun mengiriminya pesan lewat FB, disambut baik. Saat cerita kepada Mas Bangkit, mentor Kelas Menulis Purbalingga, aku juga disuruh menulis tentang Rumah Bacanya untuk rubrik Tilik Kampung di Suara Merdeka. Jadilah aku main ke Rumah Baca Meretas Ruku milik Mba Titi sekaligus mewawancarainya. Nama Meretas Ruku untuk rumah bacanya itu adalah akronim dari Menembus Batas Ruang dan Waktu. Keren ya! Sunggug Rumah Baca yang menyenangkan yang dikelola oleh keluarga yang menyenangkan pula. Dan di bawah ini adalah tulisanku tentang Rumah Baca Meretas Ruku, yang sayangnya salah cetak jadi Meretas Buku. Meretas Ruku, Rumah Baca Edukatif Di Kejobong
“Buku adalah alat transportasi tercanggih. Ia bisa membawa kita bepergian ke Eropa, Amerika, kutub utara, ke ujung dunia atau bahkan ke bulan dan bintang di angkasa. Buku juga adalah mesin waktu. Ia bisa mengajak kita kembali ke masa-masa lampau, masa depan, dan waktu-waktu lain yang kita inginkan. Karena itulah rumah baca ini saya beri nama Meretas Ruku ‘Melintas Batas Ruang dan Waktu’,” jelas Dwi Titi Maesaroh, penggagas Rumah Baca di Dusun Pagerjirak, Desa Kejobong, Kecamatan Kejobong, Purbalingga. Ia mengaku motivasinya membuka Rumah Baca muncul setelah ia pulang dari Amerika. Rumah Baca yang memanfaatkan ruang tengah rumah Dwi yang tidak terlalu luas ini sekarang telah memiliki 155 anggota dan 300 koleksi buku. “Awalnya hanya ada sekitar 140 buah buku yang berasal dari koleksi pribadi saya serta sumbangan dari teman dan beberapa dermawan. Sekarang baru bertambah sedikit,” tutur perempuan yang 2011 lalu berkesempatan memperdalam belajar bahasa Inggris di Iowa State University, Amerika. Koleksi buku tersebut terdiri dari buku-buku agama, fiksi, pengetahuan umum dan pelajaran sekolah, cerita anak, buku-buku umum, dan majalah serta surat kabar. Semuanya tertata rapi dan dikelompokkan menurut jenisnya di sebuah rak berukuran tidak terlalu besar berwarna hijau. Di Rumah Baca yang dibuka sejak 2 Oktober 2011 ini juga terdapat beberapa poster edukatif dan gambar-gambar buatan anak-anak yang sengaja ditempel oleh Dwi. Di siang hari, suasananya Rumah Baca ini sejuk karena ada sebuah jendela besar di sisi kanan. Ditanya soal suka-duka mengelola Rumah Bacanya, Dwi yang baru lulus S1 Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Ahmad Dahlan ini mengatakan ia sangat senang karena setiap hari bisa bertemu anak-anak. Namun, ia mengaku sedikit kesulitan mengembangkan Rumah Bacanya tersebut. Dwi mengatakan ia sudah pernah mengajukan proposal bantuan pengembangan Rumah Baca Meretas Ruku kepada Perpusda Purbalingga. Namun, proposal itu belum ditanggapi hingga sekarang. Di proposal tersebut, Dwi mengutarakan bahwa Rumah Baca yang ia kelola mengharapkan bantuan berupa buku-buku untuk anak-anak atau bantuan lain berupa alat gambar, alat permainan edukatif, ataupun bantuan tunai. Selain meminjamkan buku-buku secara gratis, Rumah Baca Meretas Ruku ini memang juga mempunyai berbagai kegiatan untuk anak-anak dan remaja. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain permainan edukatif seperti scrabble, puzzle, flashcards dan lain-lain juga lomba menggambar, lomba menulis, hafalan surat-surat pendek al-quran, dan lain-lain. Kegiatan tersebut ditujukan untuk semakin merangsang minat belajar dan membaca anak. Anak-anak SD N 3 Kejobong yang letaknya tidak jauh dari rumah Dwi mengaku sangat senang mengunjungi Rumah Baca yang mungkin satu-satunya di Kejobong ini. “Aku paling suka baca buku Orang-Orang Tercedas. Aku jadi bisa jawab pertanyaan siapa penemu pesawat waktu di sekolah,” cerita Devika, murid kelas 6 SD N 3 Kejobong yang siang itu datang membaca buku sebelum berangkat les. Menurut Dwi, anak-anak suka membaca buku, menggambar, dan bermain puzzle sambil lesehan di lantai Rumah Baca yang bersih tersebut. Anak-anak biasanya ramai datang saat jam istirahat sekolah sekitar jam 10, setelah pulang sekolah, dan setelah pulang les jam 4 sore. Bahkan pada hari Minggu ada juga anak-anak yang sengaja datang meski rumahnya agak jauh. Di Rumah Baca ini, selain bermain dan membaca, anak-anak juga diajarkan kedisplinan saat meminjam buku dengan diajak membuat pembatas buku yang unik. Sedangkan untuk melatih kejujuran anak, disediakan semacam toko jujur yang menyediakan alat tulis dan aksesoris dimana anak-anak boleh membayar sendiri dengan memasukkan uangnya ke toples. Anak-anak juga sudah terbiasa mandiri mencatat nama buku, tanggal pinjam, dan tanggal kembali di kartu peminjaman mereka jika Dwi atau kedua adiknya sedang tidak ada. “Dengan adanya Rumah Baca ini, saya harap bisa jadi tempat bagi anak-anak untuk belajar dan membaca buku-buku bermanfaat yang mungkin bagi orang tua mereka masih dirasa berat untuk dibeli,” ungkap Dwi yang setiap hari Minggu juga aktif membimbing mengaji remaja Dusun Pagerjirak. (Alfy Aulia)
Sejarah dan Latar Belakang Rumah Baca
Dusun Pagerjirak terletak di desa Kejobong, kecamatan Kejobong, kabupaten Purbalingga, propinsi Jawa Tengah. Luas wilayahnya 84,3 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 1081 jiwa. Sejumlah 381 penduduk berprofesi sebagai petani, 176 buruh, 72 pedagang, 3 guru dan 3 PNS, dengan angkatan kerja 635. Penghasilan rata-rata penduduk per bulan, sebanyak 88% penduduk berpenghasilan dibawah 500 ribu rupiah, 11% berpenghasilan antara 500 ribu sampai 1 juta rupiah, 0,6% berpenghasilan 1–2 juga rupiah, dan 0,4% berpenghasilan diatas 2 juta rupiah.
Penduduk usia 0-5 tahun sebanyak 57 orang, 5-10 tahun 161 orang, 10-15 tahun 81 orang, 15-20 tahun 123 orang, 20-30 tahun 98 orang, diatas 30 tahun 561 orang. Di bidang pendidikan, sebanyak 5,2% (57 orang) penduduk tidak sekolah, 44,6% (483 orang) tamat sekolah dasar, 25% (271 orang) tamat SMP, 12,4% (135 orang) tamat SMA, 1,2% (14 orang) tamat S1, dan sebanyak 11,2% (14 orang) buta huruf (sumber: kantor desa Kejobong).
Karena keterbatasan ekonomi yang dimiliki penduduk Pagerjirak, sangat jarang sekali ada rumah yang memiliki buku. Jangankan untuk membeli buku-buku ilmu pengetahuan atau fiksi, membeli buku pelajaran sekolah pun beberapa keluarga merasa keberatan. Selain itu, secara budaya, budaya gemar membaca pun masih sangat rendah. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak tersedianya buku-buku yang menarik dan kurangnya dorongan dan pembiasaan dari keluarga. Dorongan dan pembiasaan ini tidak ada atau sangat rendah karena rendahnya tingkat pendidikan orang tua, sehingga mereka belum mengganggap bahwa pendidikan itu penting, bahwa membaca itu penting.
Melihat kondisi yang masih jauh dari ideal di atas, saya sebagai salah seorang penduduk dusun Pagerjirak, memiliki sebuah gagasan untuk mendirikan sebuah perpustakaan gratis bagi warga Pagerjirak dan sekitarnya, khususnya anak-anak dan remaja yang akan menjadi generasi penerus bangsa
tiga
Alhamdulillah ruca mencetak prestasi pada tahun ini dengan menjadi peringkat 3 tingkat kabupaten dalam lomba perpustakaan 2013..
semangaaaaaat dan tetap semangat
Cerita Pengunjung
Meretas Ruku
Singkat saja. Setelah semalam halaman saya ini sempat nge-drop (nggak bisa diakses), akhirnya saya sempatkan menulis sebelum memulai aktifitas.
Hari Minggu (9/10) kemarin, saya bersama Wulan berkunjung ke Rumah Baca Meretas Ruku. Rumah baca ini diprakarsai oleh teman kami, Dwi Titi Maesaroh, yang merupakan salah satu mahasiswi berprestasi, dan sekarang masih menimba ilmu di UAD Yogyakarta.
Rumah Baca Meretas Ruku ini berada di Pagerjirak, Kejobong, di ujung timur Purbalingga, berjarak sekitar 20 km dari pusat kota. Rumah baca ini baru dibuka tanggal 2 Oktober 2011, dengan jumlah anggota sebanyak 53 orang, sasaran utama adalah warga di lingkungan sekitar, terutama anak-anak usia sekolah dasar.
Meretas Ruku adalah sebuah singkatan dari Menembus Batas Ruang dan Waktu, dengan beberapa penggambaran seperti yang ditulis oleh pemiliknya dalam sebuah event di akun facebook,
Manusia memiliki banyak keterbatasan. Tapi manusia bisa menjadikan keterbatasan itu sebagai sebuah tantangan untuk ditaklukan. Manusia belajar – menembus batas-batas ruang dan waktu.
Buku – adalah alat transportasi tercanggih. Ia bisa membawa kita bepergian ke Eropa, Amerika, kutub utara, ke ujung dunia atau bahkan ke bulan dan bintang di angkasa.
Buku – adalah mesin waktu. Ia bisa mengajak kita kembali ke masa-masa lampau, zaman pra-sejarah, zaman batu, masa Rasulullah dan sahabat, dan waktu-waktu lain yang kita inginkan.
Mari bantu mereka, beri mereka inspirasi dan keberanian untuk beranjak dari keterbatasan.
keberadaan rumah baca ini dimaksudkan untuk mengenalkan dunia luar melalui buku.
Mendarat di Rumah Baca Meretas Ruku
Mendarat di Rumah Baca Meretas Ruku
http://periperibersayappelangi.blogspot.com/2012/08/mendarat-di-rumah-baca-meretas-ruku.html


Dan kondisi inilah yang membuat sebagai salah seorang penduduk dusun Pagerjirak, memiliki sebuah gagasan untuk mendirikan sebuah perpustakaan gratis bagi warga Pagerjirak dan sekitarnya, khususnya anak-anak dan remaja yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Rumah Baca ini hadir dengan nama MERETAS RUKU “MELINTAS BATAS RUANG DAN WAKTU” karena kehadiran rumah baca ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi anak-anak dan remaja di dusun Pagerjirak dan sekitarnya untuk berusaha dan berjuang melewati keterbatasan mereka – keterbatasan ekonomi, keterbatasan budaya dan sebagainya.
Rumah Baca Meretas Ruku “Melintas Batas Ruang dan Waktu” telah resmi dibuka pada tanggal 2 Oktober 2011 di rumah Bapak Nurhidayat Nasihin di dusun Pagerjirak, dengan modal awal sekitar 140 buah buku yang berasal dari koleksi pribadi pengelola dan sumbangan dari teman dan beberapa dermawan. Koleksi buku yang dimiliki terdiri dari buku-buku agama, fiksi, pengetahuan umum dan pelajaran sekolah, cerita anak, buku-buku umum, dan majalah serta surat kabar. Saat ini rumah baca sudah memiliki lebih dari 150 anggota yang sebagian besar adalah anak-anak usia sekolah dasar (sampai dengan 17 Januari 2012) dan kurang lebih 300 buah koleksi buku.
Selain meminjamkan buku secara gratis Rumah Baca Meretas Ruku juga menyediakan kertas gambar, pensil, crayon dan peralatan gambar lainnya bagi para anggotanya yang ingin mengasah kemampuan menggambar atau sekedar berekspresi melalui gambar di rumah baca. Ada juga alat permainan edukatif seperti scrabble, puzzle, flashcards dan lain-lain. Kapanpun para anggota datang, mereka bebas menggunakan alat gambar dan permainan. Selesai menggambar, biasanya mereka menempelkan hasil gambarnya di tembok rumah baca. Sesekali rumah baca juga mengadakan kegiatan belajar bahasa Inggris atau bahasa Arab dan setiap beberapa bulan sekali memberikan doorprize berupa buku bagi anggota yang paling banyak meminjam buku dalam periode tertentu.

Terimakasih Kak Zaky sudah membantu Peri-Peri Bersayap Pelangi untuk sampai ke Rumah Baca Meretas Ruku. Semoga bermanfaat yaa untuk anak-anak di sana 🙂

Dusun Pagerjirak, desa Kejobong RT 16 RW 08, kecamatan Kejobong, kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah 53392












